Penulis : Aditya Pratama
|
Editor : Aditya Pratama

Hal serupa juga disampaikan oleh Peneliti Center of Digital Economy INDEF Izzudin Al Farras Adha. Menurutnya selain gempuran toko online, terdapat banyak faktor lain yang membuat fenomena pasar sepi ini meluas di RI.

Sebut saja pelemahan daya beli masyarakat yang terjadi belakangan ini menjadi salah satu faktor lain yang membuat pasar sepi. Namun ia tidak menutup kemungkinan bila toko online ini menjadi salah satu penyebab utama dari sepinya pasar-pasar offline saat ini.

Apalagi menurutnya dengan kehadiran toko online, terdapat peralihan model bisnis di mana produsen bisa langsung menjual produk-produknya ke konsumen tanpa perantara para pedagang di pasar.

“Salah satu memang e-commerce ada juga faktornya (membuat pasar sepi), karena gini, karena dari e-commerce apalagi sekarang live commerce itu yang (seperti) live Shopee itu bisa dari produsen langsung bertransaksi dengan konsumen. Jadi tidak perlu lagi produsen itu menjual barang ke pasar, kemudian pedagang pasar jual ke konsumen. Karena satu rantai itu bisa diputus dari produsen langsung ke konsumen. Jadi memang ada peralihan model bisnis,”

Di luar itu Izzudin memang tidak menyangkal bila saat ini sudah ada peralihan gaya belanja masyarakat dari offline menuju online menjadi salah satu faktor lain sepinya pasar-pasar tradisional atau offline. Kondisi ini sejatinya sudah mulai terjadi sejak pandemi Covid meluas kemarin.

“Jadi pasar tradisional atau offline sepi itu sudah terjadi setidaknya sejak pandemi. Karena pandemi itu orang-orang tidak bisa bertransaksi secara offline, mau tidak mau orang cari alternatif lain yaitu ke e-commerce. Kemudian setelah pandemi selesai, nah orang sudah tahu bertransaksi secara online tapi orang juga punya pilihan untuk tetap berbelanja di pasar tradisional jadi sifatnya saling melengkapi,” imbuhnya.

Follow Berita Mapbussidterbaru di Google News

Ikuti terus berita terhangat dari Mapbussidterbaru.com via Whatsapp