Penulis : Aditya Pratama
|
Editor : Aditya Pratama

Sejumlah pasar ternama dari berbagai daerah mulai kehilangan pesona hingga sepi pengunjung. Sebut saja Pasar Tanah Abang Jakarta Pusat hingga Pasar Cipadu Tangerang.

Kehadiran toko online disebut-sebut menjadi penyebab sepinya pasar itu. Benarkah demikian?

Direktur Center of Law and Economic Studies (CELIOS) Bhima Yudhistira membenarkan bila kehadiran toko online sedikit banyak memang membuat pasar-pasar tradisional ini mulai sepi pengunjung. Terlebih menurutnya banyak produk yang dijual dengan harga sangat murah di toko-toko online yang membuat persaingan pasar jadi tidak sehat.

Namun di luar itu, ia menyampaikan ada banyak faktor lain yang mempengaruhi kondisi pasar sepi belakangan ini, sehingga ia tidak bisa mengatakan bila toko online lah yang menjadi penyebab utama jatuhnya pesona pasar-pasar tradisional saat ini.

“Sebenarnya sih ada pengaruhnya, cuman banyak faktor lainnya juga. Memang persaingan yang nggak sehat di toko online merusak pasar fisik gitu ya, terutama pasar-pasar retail karena banyak barang impor yang masuk di toko online, baik social commerce maupun juga di e-commerce,” kata Bhima kepada mapbussidterbarucom, Rabu (4/10/2023).

“Toko-toko online itu memang kan barangnya banyak barang impor, kemudian ada persaingan harga yang nggak sehat ya, itu berpengaruh (terhadap banyaknya pasar sepi), tapi faktor lainnya juga banyak yang mempengaruhi,” tambahnya.

Follow Berita Mapbussidterbaru di Google News

Ikuti terus berita terhangat dari Mapbussidterbaru.com via Whatsapp

Bhima menjelaskan sebelum ramai gempuran toko online, tingkat konsumsi masyarakat terhadap produk-produk di luar pangan memang sedang mengalami penurunan. Artinya kondisi penjualan produk-produk di luar pangan memang sedang lesu, khususnya untuk produk pakaian jadi yang banyak dijual di pasar-pasar.

“Sebelum ramai adanya TikTok Shop misalnya, itu ada fenomena yang pelemahan konsumsi (masyarakat) khususnya pakaian jadi, kemudian barang-barang di luar bahan pangan itu memang ada penurunan permintaan,” ungkap Bhima.

Selain itu menurutnya kenaikan harga beras hingga BBM nonsubsidi yang terjadi belakangan ini juga ikut memperburuk kondisi keuangan masyarakat. Menurut Bhima pada faktor-faktor inilah yang kemudian membuat masyarakat untuk menahan pembelian dan membuat pasar sepi pengunjung.

“Apalagi sekarang kalau dilihat kan masyarakat, terutama kalangan menengah ke bawah fokusnya lebih ke pangan. Harga beras kan secara tahunan sudah naik 18%, terus kebutuhan pasca pandemi ternyata juga tinggi, BBM non subsidinya juga naik beberapa kali gitu ya. Itu yang membuat mereka menahan untuk berbelanja di pasar fisik juga, jadi ada faktor itu,” jelasnya.