
Bahasa merupakan alat utama bagi manusia dalam berkomunikasi dan menyampaikan pesan. Dalam bahasa, terdapat berbagai macam struktur kalimat yang digunakan, salah satunya adalah kalimat aktif dan pasif.
Pemahaman yang baik tentang perbedaan dan penggunaan kalimat pasif maupun aktif sangat penting dalam penulisan, terutama dalam konteks akademik, jurnalistik, maupun komunikasi sehari-hari.
Lantas bagaimana cara membedakannya? Dan seperti apa contoh penggunaan kalimatnya? Berikut ini kami berikan penjelasannya.

Kalimat aktif merupakan jenis kalimat di mana subjek menjadi pelaku atau penggerak dari tindakan maupun aktivitas dalam kalimat tersebut.
Dimana kalimat ini berperan penting dalam memberikan penjelasan tentang tindakan atau aktivitas yang dilakukan oleh seseorang (subjek) baik yang sedang maupun pernah dilakukan.
Umumnya dalam kalimat ini lebih menekankan unsur subjek, predikat, dan tambahan keterangan dalam tulisan maupun percakapan sehari-hari.
Sebaliknya, kalimat pasif merupakan jenis kalimat di mana subjek mendapatkan perlakuan atau tindakan dari orang atau hal lain. Sehingga, peran pelaku dipegang oleh objek bukan subjek.
Dalam penggunaannya, kedua kalimat ini saling bertentangan atau bertolak belakang. Meskipun begitu, keduanya saling terhubung satu sama lain.
Sehingga kalimat aktif bisa diubah menjadi kalimat pasif, begitu juga sebaliknya, kalimat pasif juga bisa diubah menjadi kalimat aktif.

Pada praktiknya, baik kalimat aktif maupun kalimat pasif memiliki ciri-ciri yang berbeda baik secara lisan maupun tulisan. Berikut ini kami berikan perbedaannya.
Dalam kalimat aktif, subjek berperan sebagai pelaku atau penggerak dari tindakan atau aktivitas yang diungkapkan dalam kalimat.
Contohnya: “Ayu membeli buah.” – pada kalimat tersebut, “Ayu” adalah subjek yang melakukan tindakan “membeli buah”.
Untuk membentuk kalimat aktif, dibutuhkan imbuhan “me”- atau “ber-“ pada predikat. Dimana imbuhan “me-“ digunakan ketika subjek dalam kalimat melakukan tindakan atau aktivitas pada objek.
Contohnya: “beli” menjadi “membeli” atau “makan” menjadi “memakan”.
Sedangkan imbuhan “ber-“ digunakan untuk mengungkapkan aktivitas atau tindakan subjek tanpa objek yang jelas.
Contohnya: “lari” menjadi “berlari” atau “bicara” menjadi “berbicara”.
Kalimat aktif umumnya memiliki struktur penulisan SPOK atau pola kalimat dengan urutan subjek yang diikuti oleh predikat, objek, dan terdapat tambahan keterangan di akhir.
Selain itu, kalimat aktif juga memiliki struktur SPK dengan urutan subjek, diikuti predikat, dan diakhiri dengan keterangan.
Contohnya :
Dalam kalimat pasif, objek menjadi fokus utama atau penerima dari tindakan atau aktivitas yang diungkapkan dalam kalimat.
Contohnya: “Buah itu dibeli Ayu.” – pada kalimat ini, “buah” adalah objek yang menjadi fokus karena menjadi penerima tindakan “dibeli”.
Untuk membentuk kalimat pasif, diperlukan imbuhan ter-, di-, ter- -an, dan ke- -an pada kata kerja atau predikat. Contohnya:
Beberapa kata ganti yang membentuk kalimat pasif, yaitu ini, itu, dan tersebut. Contohnya “Buah itu dibeli Ayu” – pada kalimat tersebut, terdapat kata ganti “itu” yang menunjukkan kepemilkan.
Selain itu, dalam kalimat pasif biasanya juga sering menggunakan kata “oleh” atau “dengan” di dalam kalimatnya.
Diketahui, kalimat pasif maupun aktif dibagi ke dalam beberapa jenis sesuai dengan hubungan subjek dengan objeknya.
Terdapat tiga jenis kalimat aktif yang meliputi kalimat aktif semitransitif, transitif, dan dwitransitif. Berikut ini penjelasannya.
Kalimat aktif transitif merupakan jenis kalimat yang memerlukan objek untuk melengkapi predikatnya. Sehingga pola kalimat yang terbentuk adalah Subjek-Predikat-Objek (S-P-O).
Selanjutnya, pada kalimat aktif semitransitif juga memerlukan pelengkap pada predikat, namun tidak membutuhkan objek sebagai pelengkap kalimat. Sehingga terbentuklah pola kalimat Subjek-Predikat-Pelengkap (S-P-Pel)
Terakhir, kalimat aktif dwitransitif merupakan jenis kalimat dimana predikat membutuhkan objek maupun pelengkap untuk membentuk kalimat yang sempurna. Sehingga membentuk pola Subjek-Predikat-Objek-Pelengkap (S-P-O-Pel)
Sementara itu, pada kalimat pasif dibagi menjadi empat jenis, yakni kalimat pasif transitif, Intransitif, tindakan, dan keadaan. Berikut ini penjelasannya.
Kalimat pasif jenis transitif merupakan perubahan bentuk pasif dari kalimat aktif transitif. Sehingga pola kalimatnya berubah menjadi Objek-Predikat-Subjek (O-P-S). Dimana dalam kalimat ini predikat menggunakan imbuhan “di-“ atau “di-an”.
Selanjutnya, kalimat pasif Intransitif merupakan jenis kalimat pasif yang tidak membutuhkan objek, sehingga pola kalimatnya menjadi Subjek-Predikat-Pelengkap (S-P-Pel) atau Subjek-Predikat-Keterangan (SPK)
Kemudian, pada kalimat pasif tindakan, predikat memiliki peran sebagai bentuk Tindakan atau aktivitas tertentu. Umumnya, pada kalimat pasif Tindakan menggunakan imbuhan “di-kan” tergantung konteks kalimat yang dibuat.
Terakhir, kalimat pasif keadaan merupakan jenis kalimat pasif dimana predikat memiliki peran dalam membentuk keadaan. Biasanya pada jenis ini, imbuhan yang diperlukan adalah “ke-an”.
Berikut ini kami berikan sederet contoh kalimat pasif maupun aktif untuk memudahkan Anda dalam memahaminya.
Demikian pembahasan tentang pengertian kalimat aktif dan pasif beserta dengan contohnya. Dengan menggunakan kalimat aktif maupun pasif secara baik dan benar bisa meningkatkan kejelasan, kualitas tulisan, serta pesan yang disampaikan menjadi lebih mudah untuk dipahami.
seorang penulis lepas yang benar-benar kutu buku dan saya sangat menyukai bermain games lifeafter dan undawn kini saya menjadi seorang editor di mapbussidterbaru.com sejak tahun 2023